Tali Penantian : Suara lonceng ku dengar di pagi buta Tatapan mata yang kosong Pertanda hari yang tidak diharapkan datang Ratusan pi...
Tali Penantian
Tali Penantian :
Suara lonceng ku dengar di pagi buta
Tatapan mata yang kosong
Pertanda hari yang tidak diharapkan datang
Ratusan pijakan kaki yang dinanti
Lukisan dan tulisan yang akan dieksekusi
Bunga yang menunduk ketakutan
Burung yang meninggalkan sarangnya
Manusia yang lupa siapa diri sebenarnya
Sebuah cerminan kehidupan baru
Ku basuh muka ini dengan air
Penantian di atas manusia yang ditunggu
Seketika pandangan menjadi hitam
Aku melihat jiwa-jiwa yang hampir padam
Mencoba memanggil mereka
Hanya senyuman yang diberikan
Apa ini tempat terbaik yang sebagian orang inginkan?
Mata sesaat kembali terbuka
Memang ini kenyataan yang sebagian menipu
Tidak ada satupun kata yang ingin ku ucapkan
Hingga pada akhirnya
Tubuh tetjatuh kesakitan
dan kembali tenang
Nantinya aku adalah apa yang kamu lukis
Nantinya aku adalah apa yang kamu tulis
Budak filsuf : Bayang-bayang kegelapan Tak nampak namun bersebelahan Kita berdua tak lagi melihat cahaya Menjelajah waktu yang koson...
Budak Filsuf
Budak filsuf :
Bayang-bayang kegelapan
Tak nampak namun bersebelahan
Kita berdua tak lagi melihat cahaya
Menjelajah waktu yang kosong
Apa makna ini semua?
Mereka selalu mencariku
Mereka selalu mengikutiku
Aku sama tersesat sepertimu
Jika saja mereka mengerti
Kaki ini selalu bertumpu bara api
Jika saja mereka merasakan
Tulang ini hancur tak terlihat
Jika saja aku mengatakan
Suara ini seperti deburan ombak
Datang dan pergi berserakan
Dimana tempat terbaik yang kita impikan
Hati yang enggan untuk peduli
Persimpangan yang selalu bersampingan
Membuat benar dan salah bukan menjadi jawaban
Kita berlari pada suatu titik nantinya
Bukan lagi dikejar oleh kematian
Tapi kita yang selalu ingin mengejar kematian
Tetaplah bersamaku
Mungkin takdir buruk selalu menemaniku
Percayalah suatu hari nanti
Luka ini akan mengering dan membekas
Takkan kubiarkan mereka melupakanmu
Tahun-tahun pembalasan
Sekilap Mata : Bawa diriku menyelam di dasar lautan Waktu yang tenang membuat ruang Sugesti mimpi buruk membelakangi bayang bayang R...
Sekilap Mata
Sekilap Mata :
Bawa diriku menyelam di dasar lautan
Waktu yang tenang membuat ruang
Sugesti mimpi buruk membelakangi bayang bayang
Rasa takut seakan-akan sirna
Perlawanan bak fatamorgana
Paus biru itu pernah berpesan
"Ada waktu dimana kamu tidak lagi menginginkan apel yang manis
Tapi yang kamu inginkan hanya mati dengan sinis"
Mata ini langsung terpejam
Menyadari impianku yang berlebihan
Siapa diri ini dibanding mereka
Kosongkan pikiran kembali ke permukaan
Langkah berair ini mengingatkanku
akan perjalanan yang singkat ini
Kembalilah pulang,
Jika ingin pergi pergilah
Sang surya tidak akan pernah berdusta
Rahasia akan selalu menjadi rahasia
Kematian yang tertunda
Selalu menjadi sebuah jawaban
Jawaban tanpa mebutuhkan pertanyaan
Selamat tinggal teman lama
Sofa Merah : Dia datang untuk ketiga kalinya Tidak ada kata selain maaf yang kau lontarkan Selalu menganggap dirimu baik-baik saja I...
Sofa Merah
Sofa Merah :
Dia datang untuk ketiga kalinya
Tidak ada kata selain maaf yang kau lontarkan
Selalu menganggap dirimu baik-baik saja
Ingatan perlahan pulih kembali
Memutar pikiran dan hati
Engkau lah sang pujaan yang pernah hilang
Sungguh malang hidupmu
yang kau inginkan hanya sebuah kepastian
Tidak ingin mengerti apa itu kehilangan
Hentikan tangisanmu itu!
Kemarilah dan pandang mataku
Hidupku tidak akan lama di dunia ini
Bagaimanapun keadaanmu,
Aku rela membersihkan meja kerjaku
untuk semua masalahmu
Menginaplah di sini semalan
Akan kusediakan sofa dan selimut yang hangat untukmu
Ruangan kecil ini akan membuatmu selalu ingat,
Di mana kamu bisa berlindung
Berlindung dengan ketiadaan
Datanglah kembali,
Tirani Diri : Menghilang musnah destinasi keaslian Inspirasi layaknya kobaran api Terkesima pada ungkapan hati yang membatu ...
Tirani Diri
Tirani Diri :
Menghilang musnah destinasi keaslian
Inspirasi layaknya kobaran api
Terkesima pada ungkapan hati yang membatu
Mempermainkan pikiran, menolak diri
Hembusan angin membawa luka
Tangisan ini menyelamatkanku
dan berakhir menyisakan kilauan
Mengagumi kesempurnaanmu
Merasa bodoh mengakhiri kepergianmu
Sulit menerima rasa sakit di waktu yang sama
Menghantam diri dengan cacian
Menggali astral yang berisi harapan
Kelak nanti jiwa ini melayang dalam kegelapan
Ungkapan hati tanpa suara, membuka hati dengan kejujuran
Selalu berterima kasih pada dosa dan kesalahan
Tidak lupa diri ketika di persimpangan
Langganan:
Postingan (Atom)






Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances